Ketika berbicara tentang konsep pendidikan, banyak di antara kita selalu merujuk ke Barat (baca: Amerika atau Eropa), baik secara teoritis maupun praktis. Tidak heran kita lebih fasih berbicara tentang Paulo Friere di bandingkan Ki Hajar Dewantara (selanjutnya KHD), kita lebih hapal Maria Montessori daripada Rahmah el Yunusiyah, dan seterusnya. Bahkan kita secara latah ingin mencontek habis praktek pendidikan di negara-negara yang dianggap berhasil sistem pendidikannya, semisal Finlandia, Jepang, Korea Selatan, Singapura dan seterusnya, untuk dipraktekkan di pelosok kampung Indonesia. Seakan apa yang dipraktekkan oleh orang/negara lain, akan sama berhasilnya dengan apa yang akan dilakukan di Republik ini.
Bukan berarti kita bersifat apriori apalagi antipati terhadap sesuatu yang datang dari luar. Hanya saja, selain kita mengambil pengetahuan dari luar, seyogyanya kita juga harus mulai menggali kembali khazanah kearifan lokal (local wisdom) yang ada dan berkembang di masyarakat. Hal ini sejatinya sangat relevan, karena berangkat dari pengalaman langsung masyarakat kita di masa lalu.
Dalam bahasa KHD disebutkan: “Jangan hanya meniru. Hendaknya barang baru tersebut dilaraskan lebih dahulu. Maksudnya, disesuaikan dengan rasa kita dan keadaan hidup kita”. Hal ini dilakukan, menurut KHD agar “kaum pendidik dan ibu-ibu dapat mengadakan metode sendiri yang selaras dengan kehidupan bangsa kita”
Salah satu tokoh pendidikan yang pernah dilahirkan bangsa ini adalah Ki Hajar Dewantara (atau Suwardi Suryaningrat), yang dijuluki Bapak Pendidikan Indonesia. Banyak pelajaran, tunjuk ajar, bahkan praksis pendidikan yang ditinggalkan. Bahkan hari kelahiran KHD, tanggal 2 Mei, diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.
Hari ini kita mengenal KHD (hanyalah) sekedar sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Tidak lebih tidak kurang. Tetapi siapa KHD, bagaimana kontibusinya di dunia pendidikan Indonesia, serta bagaimana nasehat dan ajaran KHD, masih banyak di antara kita yang tidak tahu, bahkan para guru atau orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan sekalipun. Padahal istilah Tut Wuri Handayani yang ada di lambang Kementerian/Dinas Pendidikan atau sekolah, adalah sebuah istilah yang diambil dari salah satu ajaran KHD. Masih banyak lagi, konsep-konsep pendidikan KHD yang masih sangat relevan, dengan konteks hari ini, utamanya untuk pembelajaran dalam Kurikulum 2013.
Ajaran Ki Hajar Dewantara
Di antara konsep KHD yang paling terkenal adalah “Kita berhamba pada sang anak”. Arti berhamba bukan dalam pengertian kita menjadi hamba atau budak dari seorang peserta didik. Yang dikehendaki dari ajaran ini adalah bagaimana orientasi pendidikan berpusat pada murid (student center). Hal ini relevan dengan Kurikulum 2013 yang juga menjadikan peserta didik sebagai pusat pendidikan (subjek pendidikan). Oleh karena itu pendidik dalam pembelajarannya, harus memperhatikan karakteristik para murid, semisal modalitas belajar, berbagai kecerdasan, kondisi psikologisnya, dan seterusnya.
Konsep berhamba pada sang anak diperkuat dengan metode Among dalam proses pembelajaran. Among yang dalam perspektif KHD adalah suatu sistem pendidikan yang berjiwa kekeluargaan dan bersendikan Kodrat Alam dan Kemerdekaan. Sehingga dalam proses pembelajaran, pendekatan yang dilakukan oleh pendidik adalah pendekatan yang lebih humanis, yaitu memanusiakan manusia. Konsep Among adalah pengejawantahan dari proses pendidikan yang lebih menghargai manusia (baca : peserta didik). Sehingga dengan ini peserta didik bisa berkembang kepribadian dan budi pekerti sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.
Pokok pikiran KHD yang juga masih relevan dengan pembelajaran hari ini adalah yang disebut Tringa, yaitu ngerti (mengerti), ngrasa (merasa), nglakoni (melakukan). Walaupun ditulis dengan bahasa Jawa, akan tetapi pokok pikiran Tringa ini sangat terasa relevansinya, apabila dikaitkan dengan Kurikulum 2013. Kalau boleh saya korelasikan, konsep ngerti ini sama dengan pengetahuan (kognitif), ngerasa sama halnya aspek sikap, dan nglakoni sama dengan melakukan (psikomotor). Ini relevan dengan model sistem penilaian dalam Kurikulum 2013, yang menilai ketiga aspek tersebut secara keseluruhan. Hal mana ini sangat berbeda dengan model penilaian pada kurikulum sebelumnya, yang hanya menekankan aspek kognitif saja. Model penilaian ini akan lebih mengakomodir berbagai kemampuan dan kecerdasan peserta didik.
Ajaran selanjutnya dari KHD, yang sangat popular dalam ranah pendidikan adalah sebagaimana dalam ungkapan KHD : Ing ngarsa sung tulada, Ing madya mangun karsa, Tutwuri handayani. Trilogi ini semula hanya diperuntukkan di kalangan pendidikan, dan merupakan perangkat pendidikan dalam melaksanakan tugas pendidikan yang berjiwa kekeluargaan. Namun dalam perkembangannya, kosenp Trilogi Kepemimpinan ini telah menjadi salah satu model kepemimpinan pada lintas instansi, sebagai sarana mengatur tata kehidupan bersama, baik di kalangan Pemerintah, TNI/Plori, maupun sipil. Ing ngarsa sung tulada Diartikan di depan selalu menjadi contoh/tauladan dalam perilaku dan ucapan, Ing madya mangun karsa dimaknai membangkitkan semangat dan memberikan motivasi, serta Tut Wuri handayan bermakna membimbing dari belakang dan mengingatkan jika tindakan siswa membahayakan.
Menakar Ki Hajar Dewantara
Masih banyak lagi ajaran-ajaran KHD yang meliputi bermacam ragam tema dan bahasan. Ada yang sifatnya konsepsional, petunjuk operasional-praktis, dan fatwa atau nasehat. Hal ini mengindikasikan kualitas seorang KHD sebagai salah satu tokoh penting pejuang Indonesia di masa lampau. Selain tokoh besar dalam pendidikan di Indonesia, KHD juga tercatat sebagai pejuang yang juga gigih dalam melawan kolonialisme Belanda, terutama melalui medan pers dan organisasi.
Kapasitas KHD di ranah pendidikan tidak hanya dikenal di Indonesia, tapi pengakuan akan eksistensi KHD, bahkan sampai ke luar negeri. Sehingga sosok seperti Rabindranath Tagore, tokoh pendidikan sekaligus sastrawan besar India yang pernah meraih hadiah Nobel bidang sastra, dan Maria Montessori, teoritisi dan praktisi dalam pendidikan dari Italia, pernah secara khusus datang ke Perguruan Taman Siswa di Yogyakarta.
Sehingga sangat sayang, konsep-konsep besar KHD dalam ranah pendidikan tersia-siakan. Kalau tokoh sebesar Tagore dan Montessori, harus merasa perlu datang dan saling belajar dengan KHD, apatah bangsa Indonesia, sebagai “pewaris langsung” dari para pahlawan-pejuang di masa lampau. Bung Karno pernah berkata: “Bangsa Yang besar, adalah Bangsa yang menghormati jasa para pahlawannya”.
Dalam rangka menghormati KHD, seyogyanya segenap anak bangsa, kembali belajar terhadap warisan-warisan pemikiran KHD, terutama dalam ranah pendidikan. Sehingga dengan ini, kita tidak hanya meniru, tapi bisa menemukan sendiri metode/model/pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan adat dan budaya bangsa Indonesia. Salam Bahagia
MOH. ZULHAM ALSYAHDIAN
Guru Penggerak Angkatan 1 Kabupaten Indragiri Hilir

1 Komentar
Mantap tulisannya Pak. Sangat menginspirasi ini. Sukses sll dan tetap berbagi tulisannya
BalasHapus